ourafrica:

Sahara 

Photos by Sahour Khaled

This is Africa, our Africa

lottaschelinmagic8:

Uefa Women’s Champions League Final München  17th May 2012
1.FFC Frankfurt - Olympique Lyonnais Féminine

lottaschelinmagic8:

Uefa Women’s Champions League Final München  17th May 2012

1.FFC Frankfurt - Olympique Lyonnais Féminine

(Source: lottaschelin, via mediterraneenne)

trip ke blitar (sisanya)

Setelah sarapan dan melihat2 kami akhirnya bertemu orang yang akan mengantarkan kami ke pemilik farm koi, karena si bajay memang dalam perjalanan ini dalam misi belanja koi, kami pun diantarkan oleh mas yang mirip teman saya si bhakti (sayang ga saya photo). Begitu sampai disana kami disambut dengan hangat oleh orang-orang disana dan makhluk2 ini

Setelah seharian si bajay memilih2 koi yang mau dibeli dan kami berbincang dengan orang2 disana, kami baru mandi setelah mendekati jam sebelas siang, oiya kami menginap di farm koi Wichala milik Pak Pri.

Setelah sore menjelang malam kami diajak ke tempat kontes untuk melihat proses pendaftaran dan rekondisi ikan

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

satu hal yang ga saya suka dikontes ini jadi ikan yang disertakan kontes, besok dimasukkan kedalam plastik selama berjam2. Dalam pandangan saya yang hobby fishkeeping entah mengapa hal ini seperti menyiksa :D

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Pada pagi hari suasana di tempat kontes sudah ramai, infonya tidak hanay dari blitar saja yang ikut kontes ini, ada yang dari surabaya, kediri bahkan jakarta ikut serta dalam kontes.

hasil kontes cukup menggembirakan bagi wichala farm, karena cukup mendapat banyak juara kontes per kategorinya dan ikan milik anak pak Pri, wisnu mendapat gelar baby champion (gelar baby champion untuk ukuran dibawah 20cm, young champion untuk 20-30cm, dll).

kami tidak mengikuti kontes sampai selesai, karena hari itu kami harus sudah kembali ke jakarta sekitar pukul dua siang kami pergi menuju stasiun dengan maksud sekalian melihat2 kota sebelum pulang. Dalam perjalanan menuju stasiun sempat melewati makam bung karno karena sedang liburan suasanya cukup ramai, sayang ga sempat ambil foto.

kami makan siang di salah satu stand di acara blitar jadoel, menunya nasi liwet dan lauk pauk dan minumnya beras kencur atau kunyit asem.

dan ternyata di bagian lain stand2 tersebut diisi oleh anak2 sekolah disana mulai dari smp sampai sma, mereka rata2 membuka stand makanan dan mengenakan kebaya tapi kelihatan imut2, hahaha.

Sekitar pukul empat kami menuju stasiun dan disini sempat ketemu lagi dengan si bhakti (ga tau nama aslinya :D). Di perjalanan pulang kali ini kami memakan waktu lebih lama sekitar 17 jam, karena berhenti lebih banyak dibandingkan saat berangkat. Dan pemandangan unik dan baru bagi saya yaitu ngelihat orang dengan santainya menggelar koran di lantai kereta dan langsung tidur dong, hahaha.

sampai di jakarta sekitar jam sepuluh pagi, dan pada saat naik patas 44 kena palak, untuk tampang saya yang ga imut2 ini berhasil meghalau sang preman XD.

trip ke blitar (part 1)

Sebenernya trip ke kota ini udah direncanain dari beberapa bulan yang lalu, tapi baru kesampaian awal april ini karena hari jumat tanggal merah, jadi ada waktu libur yang cukup panjang. Waktu diajak oleh seorang teman bernama hari (selanjutnya dipanggil bajay) untuk nemenin dia ke blitar gw langsung bilang okee, karena gw juga lama udah ga keluar kota dan ini pertama kali saya naik kereta jarak jauh seperti ini, sebelumnya pada saat masih SD bersama orang tua. Maka jadilah kami pada hari kamis pagi tanggal 5 april berangkat ke stasiun senen. Karena kami tidak dapat tiket, kami beli tiket melalui calo yang harusnya tiket kereta ekonomi matarmaja ini seharga lima puluh ribu kami beli dengan harga seratus tiga puluh lima ribu, hahahaha.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

ada peraturan baru yang disosialisasikan kemarin, yaitu apabila membeli tiket diharuskan menggunakan ktp orang yang mau berangkat, apabila tidak maka tiket akan hangus.

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kesan pertama saya pada saat naik kereta ekonomi ini tentu panas, dan bangkunya keras banget, tapi saya tetap excited. Inilah pemandangan di kereta ketika masuk daerah jawa barat sampai madiun.

Dalam perjalanan saya ini baru tau kalau anggota TNI atau yang dikenal dengan angkatan, bayar tiket sekitar 30% saja dari harga tiket umumnya (itupun kalau mau membayar XD) ada oknum, contohnya yang seperjalanan dengan kami karena kehabisan tiket tanggal lima sengaja membeli yang tanggal enam, dan memaksa dapat duduk, entah bagaimana nasib orang yang seharusnya menduduki bangku tersebut.

Setelah 15 jam perjalanan kami sampai di stasiun blitar, kesannya pada saat sampai disana, waaaah udaranya sejuk namun mataharinya terik.

suasana peron

Kami sangat beruntung, karena kebetulan saat itu merupakan hari ulang tahun kota blitar, sehingga ada dua event yang dapat kami lihat, yaitu kontes koi dan blitar jadoel.

Pada saat sampai disana karena kami masih menunggu orang yang mau menjemput kami melihat di jalan kota ada semacam stand2 tapi dari kayu, ternyata di kota tersebuit sedang ada event blitar jadoel.

Karena masih pagi suasananya masih sepi, setelah melihat2 kami lalu mencari sarapan, dan kami makan soto ayam (soto ayam disini rasanya lebih ke tongseng :D).

(bersambung lain waktu, udah ngantuk)

(Source: 92kales, via mediterraneenne)

guyonan Nya mana lagi yang kamu dustakan?

thepalestineyoudontknow:

Remembering The Ibrahimi Mosque Massacre

In one of the most sacred Muslim sanctuaries, and on the morning of the 15th day of the holy month of Ramadan in the year 1414 of the Hegira –the 25th of February 1994-, a despicable massacre was committed in the Holy Sanctuary in Hebron. This unspeakably evil butchery took place in a supposedly sacred house of prayer for Jews as well, when, early in the morning, Baruch Goldstein, an Israeli settler, IDF reservist and doctor went on a rampage inside AlIbrahimi Mosque, the burial site of Prophet Isaac and his wife.      After the guards allowed him in with his weapon, Goldstein entered the Mosque and positioned himself behind a pillar to the rear of the Muslim worshippers. He waited until they were in the Sujood position, then opened his hateful fire on them, killing 29 worshippers and injuring tens of others. Had he not been eventually overwhelmed and killed by survivors, the number of casualties would have been much higher.Following the massacre, Israeli occupation soldiers present in the Holy Sanctuary and its vicinity closed down the gates of the Mosque, preventing survivors from leaving and help from reaching the wounded and evacuating the victims. During the long closure, violent clashes erupted around the Mosque between Palestinians and Israeli forces in which four other Palestinians were killed and many wounded. Once news of the massacre spread out, angry Palestinians began rioting throughout Hebron, and the number of martyrs reached 50.

Again, the victims paid the price. The world stood and watched while Israel closed down The Holy Sanctuary for long months, then seized more than half its area and transformed it into a Jewish Synagogue. Muslim worshippers were prevented from reaching the Mosque, while more and more checkpoints mushroomed around it, making access to it very difficult. Despite all these measures, Muslim worshippers continue to come in large numbers to pray at Al Ibrahimi Mosque, regardless of Israeli checkpoints and continuous settler crimes. (x)

(via mediterraneenne)

thepalestineyoudontknow:

@Eye On Palestine / Today
“on this earth what makes life worth living”

thepalestineyoudontknow:

@Eye On Palestine / Today

on this earth what makes life worth living”

(via mediterraneenne)